International Seminar on Instrumentation, Measurement and Metrology (ISIMM 2014)

CALL FOR PAPERS

The 2014 International Seminar on Instrumentation, Measurement and Metrology (ISIMM 2014) will take place in Yogyakarta, Indonesia, August 27-28, 2014. It is jointly organized by Universitas Gadjah Mada (UGM) and Institut Teknologi Bandung (ITB). Moreover, Indonesian Physical Society (HFI)Physics and Applied Physics Society of Indonesia (PAPSI)National Standardization Agency of Indonesia (BSN),Research Center for Calibration, Instrumentation and Metrology (Puslit KIM-LIPI)Calibration Laboratory - LPPT UGM, and Indonesian Society for Non-Destructive Testing (AUTRI) will provide technical supports to this seminar.
Prominent researchers and scientists from around the world will join together in the seminar to share their latest research results and exchange their ideas. In addition, direct contacts among the researchers and scientists will therefore promote international research networking as well as collaboration in the future.
The seminar will include plenary speeches, invited presentations, and contributed presentations (oral and poster). All accepted papers from the ISIMM 2014 will be published in one of international journals such as APPLIED MECHANICS AND MATERIALS, which is indexed in EI Compendex, Thomson ISTP, and Elsevier SCOPUS databases.
Following the seminar, Workshop on Non-Destructive Testing (NDT) will be held on August 29-30, 2014 in the same venue.

IMPORTANT DATES

Extended abstract submission due: May 11, 2014
Extended abstract acceptance notification: May May 25, 2014
Full paper submission due: July 24, 2014
Seminar days: August 27-28, 2014
Workshop days: August 29-30, 2014


PLENARY SPEAKERS


  • Prof. Rini Akmeliawati*, International Islamic University Malaysia, Malaysia
  • Prof. Agus Budiyanto, Konkuk University, Korea
  • Prof. Deddy Kurniadi, Institut Teknologi Bandung, Indonesia

Sambutan Menteri Negara Riset dan Teknologi, Hari Metrologi Dunia, Jakarta, 22 Mei 2013

Bismillahirrahmanirrahiim


Yang saya hormati, Kepala BSN Prof. Dr. Ir. Bambang Praseya, M.Sc. selaku Ketua Komite Standar Nasional Satuan Ukuran (KSNSU).
Honorable Guest Speaker : Prof. Manfred Kochsciek tenaga ahli dari PTB Jerman yang bersedia untuk hadir selaku pembicara
Tamu dalam acara ini serta para Narasumber dalam talkshow dalam peringatan Hari Metrologi Dunia.
Yang saya hormati, Saudara-Saudara pejabat LPNK di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi Rl.
Yang saya hormati, Saudara-Saudara pejabat Kementerian yang hadir dalam acara ini.
Serta para undangan dan hadirin seminar dan talkshow,

Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh, Selamat pagi, dan Salam sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan karunia kesehatan dan kebahagiaan kepada kita semua, sehingga hari ini kita dimudahkan langkahnya hingga dapat berkumpul bersama dalam acara Seminar dan Talkshow Hari Metrologi Dunia yang diperingati bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei.

Tema peringatan Hari Metrologi Dunia tahun 2013 ini di tingkat internasional adalah "PENGUKURAN DALAM KEHIDUPAN SEHARI- HARI (measurement in daily life). Tema ini ditetapkkan oleh the International Bureau of Weight and Measures (BIPM) dan the International Organization of Legal Metrology (OIML) untuk mengingatkan kepada kita semua betapa proses pengukuran tidak dapat dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari, melihat waktu di jam tangan kita, menimbang belajaan di pasar, mengisi bahan bakar kendaraan kita, memeriksa tekanan darah, dan berbagai kegiatan lain dalam kehidupan kita.

Metrologi merupakan ilmu pengetahuan tentang pengukuran yang benar, handal dan tertelusur ke the Standard International system of Units (SI units).

Metrology mencakup aspek teoritis (scientific metrology) dan praktis pengukuran baik penerapan dalam dunia industri (applied metrology), maupun penerapan untuk kepentingan keamanan, kesehatan, dan keselamatan warga negara serta kelestarian lingkungan hidup melalui regulasi pemerintah (legal metrology).

Karena itu sangat relevan BSN mengangkat tema seminar dan talkshow
"KEBANGKITAN SISTEM PENGUKURAN NASIONAL"

dengan menyertakan pakar dalam bidang metrology dan pihak-pihak pertama yang relevan dalam merealisasikan kebangkitan ini seperti:

    Lembaga Penelitian dan Pengembanggan Standar Nasional Satuan Ukuran terkait dengan ilmu pengetahuan kemetrologian (scientific metrology) seperti Litbang Perguruan Tinggi, Litbang dan pusat-pusat standardisasi di Kementrian, LIPI, dan pihak-pihak lain yang relevan.
    Praktisi Industri yang sudah/atau yang akan menerapkan Standard Nasional Satuan Ukuran dan para pelaku usaha dalam menerapkan pengukuran yang benar, handal dan tertelusur ke SI units (applied metrology)
    Institusi pemerintah yang relevan dengan proses pengukuran dan alat ukur bagi proses-proses pengukuran untuk kepentingan; keamanan, kesehatan, dan keselamatan warga negara serta kelestarian lingkungan hidup (legal metrology).
    BSN khususnya organ Komite Standar Nasional Satuan Ukuran (KSNSU) yang berperan dalam koordinasi menyatukan tiga pilar infra strukrtur mutu yaitu metrology, standardisasi dan penilaian kesesuaian.


Hadirin yang saya hormati,
Peta Jalan (Road Map) untuk Penataan Sistem Pengukuran Nasional yang mencakup penataan kelembagaan di bidang metrologi dan penguatan ilmu pengetahuan kemetrologian adalah objektif seminar ini. Road map menjadi input proses berikutnya yaitu sistem pengukuran nasional dan infrastruktur (kelembagaan) bidang kemetrologian yang tertelusur ke Standard International (SI) units.

Hadirin yang saya hormati,
Daya saing sebuah bangsa, dalam konteks globalisasi dapat dipahami sebagai kemampuan sebuah bangsa untuk dapat diterima sebagai pemain dalam rantai produksi dan transaksi global.

Untuk dapat bersaing dalam rantai produksi dan transaksi global, sebuah bangsa harus mampu memenuhi persyaratan-persyaratan produksi dan transaksi yang ditetapkan oleh para pemain dalam pasar global dan mampu menerapkan aturan-aturan dalam pasar dalam negeri untuk melindungi seluruh kepentingan bangsa.

The Agreement on Establishing World Trade Organization (WTO), khususnya World Trade Organization Agreement on Technical Barrier to Trade (TBT) merupakan kesepakatan internasional yang harus dapat dimanfaatkan oleh bangsa untuk meningkatkan daya saingnya. Hanya produk dan jasa yang bermutu yang dapat bersaing dalam pasar global.


Produk dan jasa yang bermutu adalah produk dan jasa yang memenuhi persyaratan regulasi teknis yang ditetapkan oleh pasar global sesuai dengan kesepakatan dalam WTO. Sesuai dengan WTO agreement on TBT, persyaratan regulasi teknis harus didasarkan pada standar (dokumen) internasional yang ditetapkan oleh organisasi standardisasi internasional.

Saat ini kita juga dihadapkan dengan kebijakan masyarakat ekonomi ASEAN, yang dikenal dengan Asean Economic Community pada tahun 2015, yang mewajibkan Indonesia untuk menjalankan kesepakatan peraturan perdagangan yang sama di antara negara-negara ASEAN lainnya, termasuk di dalamnya harmonisasi standar. Harmonisasi standar ini hanya akan efektif apabila ke tiga pilar infrastruktur mutu setara antar satu negara dengan lainnya di tingkat ASEAN. Ketiga pilar tersebut yaitu standard, metrologi dan penilaian kesesuaian.

Kesesuaian terhadap sebuah standar internasional hanya dapat diterima dalam pasar global bila didasarkan pada proses penilaian kesesuaian yang kompeten.

Hasil penilaian kesesuaian hanya dapat diterima bila seluruh proses pengukuran yang dilakukan tertelusur melalui Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU) ke definisi satuan dalam the Standard International system of Units.

Inilah yang kita harus pahami, tidak ada daya saing bila infrastruktur mutu tidak diterapkan dan diakui kesetaraannya dengan pasar ASEAN atau pasar global.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Infrastruktur mutu terkait pilar standardisasi, kita fokuskan Badan Standardisasi Nasional (BSN) menjadi focal point-nya, Infrastruktur penilaian kesesuaian ada Komite Akreditasi Nasional (KAN); Keduanya sudah berjalan beriringan dan pengakuan International terus menerus dipertahankan.

Disisi lain harus kita akui bahwa posisi penelitian dan pengembangan Standar Nasional Satuan Ukuran (SNSU) kita saat ini berada dalam posisi yang tidak membanggakan, meskipun kita tidak boleh menutup mata atas keberhasilan yang telah dicapai oleh seluruh pihak yang telah melaksanakan tugas penelitian dan pengembangan SNSU. Bahkan, bila dibandingkan dengan negara-negara tetangga kita di ASEAN, yang dulu berkiblat ke Indonesia dalam pengembangan standardisasi, termasuk SNSU, saat ini mereka telah dapat mencapai pengakuan internasional terhadap SNSU-nya, dalam level yang lebih baik dari kita. Negara-negara tersebut, khususnya adalah Thailand, Singapore, dan Malaysia, yang saat ini tampak mulai mengembangkan industrialisasi dengan lebih baik.

Dengan tetap menghargai keberhasilan yang telah dicapai oleh berbagai pihak terkait, sudah selayaknya kita mulai menata kembali dan memperkuat sistem penelitian dan pengembangan ilmu pengukuran, dan penelitian dan pengembangan Standar Nasional Satuan Ukuran untuk memiliki pondasi yang lebih baik bagi perkembangan teknologi, bagi perkembangan industri, bagi perlindungan keselamatan masyarakat dan lingkungan hidup serta bagi peningkatan daya saing nasional dalam perdagangan regional maupun global.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Kita sebagai bangsa Indonesia, memeringati tanggal 20 Mei sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan dalam peringatan Hari Metrologi Dunia 2013 ini, saya berharap, momen peringatan hari metrologi dunia di Indonesia tahun ini dapat menjadi momen "Kebangkitan Sistem Pengukuran Nasional" dalam mendukung daya saing nasional menghadapi pasar tunggal ASEAN 2005 dan pasar global, sesuai dengan tema nasional yang dipilih oleh Komite Standar Nasional Satuan Ukuran (KSNSU) dalam peringatan Hari Metrologi Dunia: "KEBANGKITAN SISTEM PENGUKURAN NASIONAL: Syarat Mutlak Peningkatan Daya Saing Nasional dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 dan Pasar Global".

Saya berharap, seluruh pihak yang berkaitan dengan metrologi, dapat bersinergi untuk membangkitkan kembali sistem pengukuran nasional. Pengembangan ilmu pengukuran, penelitian dan pengembangan standar nasional satuan ukuran, penerapan peraturan perundang-undangan di bidang kemetrologian harus dikembangkan secara sinergis untuk kepentingan nasional. Tanpa sinergi dari seluruh pihak terkait, sangat sulit untuk dapat mewujudkan cita-cita Kebangkitan Sistem Pengukuran Nasional kita.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya yakin, bahwa kita semua akan mampu mewujudkan sistem pengukuran nasional sebagai salah satu sistem pengukuran terbaik di tingkat regional ASEAN atau bahkan di tingkat internasional, bila kita semua bekerja secara harmonis, satu pihak dengan lainnya saling menghormati kewenangan dan tanggungjawabnya, mengambil tanggungjawab dengan penuh kesadaran dan kebersamaan.

Dan dengan ini saya menyatakan bahwa acara peringatan Hari Metrologi Dunia 2013 secara resmi dibuka. Selamat berdiskusi, semoga hasil dari diskusi hari ini dapat digunakan sebagai dasar bagi Komite Standar Nasional Satuan Ukuran (KSNSU) dalam penyusunan strategi dan roadmap nasional untuk mewujudkan Kebangkitan Sistem Pengukuran Nasional.

Sekian,
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Menteri Negara Riset dan Teknologi
Gusti Muhammad Hatta


Sumber: http://www.ristek.go.id/index.php/module/News+News/id/13349

Penyelenggaraan Seminar Nasional Metrologi Legal Dalam Rangka Memperingati Hari Metrologi Dunia

Jakarta, 21 Mei 2013 – Dalam rangka memperingati Hari Metrologi Dunia pada 20 Mei, Kementerian Perdagangan menyelenggarakan seminar nasional di bidang metrologi legal dengan tema “Peran Metrologi Legal sebagai Sektor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi”. Seminar ini dibuka oleh Menteri Perdagangan dan didampingi oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, dan Direktur Jenderal Standardisasi dan Perlindungan Konsumen. Beberapa pembicara tamu yang hadir antara lain Mr. Peter Mason, President of International Organization for Legal Metrology (OIML), John Birch, Honorary Member of  Committee Internationale de Metrologie Legale (CIML), dan Prof.Dr. Manfred Kochsiek, Expert dari PsysikalischTechnischeBundesantalt (PTB) Jerman.

Dalam sambutannya Menteri Perdagangan  menyampaikan bahwa jaminan kebenaran dalam hal penggunaan alat Ukur, Takar, Timbang dan Perlengkapannya (UTTP) khususnya dalam transaksi perdagangan tidak hanya memiliki peran dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat/konsumen, tetapi menjadi hal yang penting peranannya dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.

Penyelenggaraan metrologi legal dalam memberikan jaminan kebenaran hasil pengukuran mampu memberikan kontribusi yang signifikan dalam pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dengan meminimalisir beban biaya yang timbul dalam transaksi perdagangan maupun proses produksi. Dalam publikasi yang diterbitkan oleh Organization Internationale de Metrologie Legale (OIML) yang berjudul Benefit of Legal Metrology for the Economy and Society (John Birch A.M), dijelaskan bahwa studi yang pernah dilakukan oleh Australia untuk mengestimasi nilai total transaksi perdagangan yang berhubungan dengan pengukuran untuk periode 1990-1991 adalah sekitar AUD 322 miliar atau 60% dari PDB. Selanjutnya studi tahun 1996 di Amerika Serikat memperkirakan transaksi perdagangan yang berhubungan dengan pengukuran adalah sebesar USD 4,13 triliun atau 54,5% dari PDB.

Mendag menjelaskan bahwa penyelenggaraan kegiatan metrologi legal yang bersifat mandatory di era otonomisasi masih dipandang sebagai upaya menarik retribusi pelayanan tera dan tera ulang untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Untuk beberapa daerah dengan jumlah potensi UTTP yang relatif kecil, besaran PAD yang akan diperoleh tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan, sehingga ada kecenderungan pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan tidak mengambil urusan metrologi legal sebagai urusan pemerintahan daerah. Kebijakan di bidang metrologi legal harus menjadi kebijakan bagi seluruh strata Pemerintah, yang bertujuan untuk membangun infrastruktur metrologi untuk dapat memastikan perdagangan yang adil, mendorong pembangunan ekonomi dan efisiensi ekonomi, kemajuan ilmu dan teknologi nasional, perlindungan kesehatan dan lingkungan serta perlindungan warga negara dan konsumen.

Pembangunan metrologi legal dalam mewujudkan tertib ukur dalam kerangka memberikan perlindungan konsumen dan mendukung pertumbuhan ekonomi membutuhkan kolaborasi bersama antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, pelaku usaha, dan masyarakat. Mendag berharap seminar nasional ini dapat meningkatkan pemahaman di bidang metrologi legal serta mendapatkan masukan dari para pemangku kepentingan sebagai bahan referensi dalam penyusunan kebijakan di bidang metrologi. “Penyelenggaraan kegiatan metrologi legal diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan tidak hanya untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat/konsumen tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujar Mendag Gita.

Sekilas mengenai Hari Metrologi Sedunia

Hari Metrologi Sedunia (The World Metrology Day) diperingati setiap 20 Mei. Penetapan tanggal tersebut sebagai Hari Metrologi Sedunia didasarkan pada hasil The 21st General Conference on Weights and Measures (CGPM) pada 11-15 Oktober 1999 yang dimaksudkan untuk memperingati penandatanganan Konvensi Meter (Convention du Mètre) pada 20 Mei 1875. Konvensi Meter tersebut merupakan titik awal dalam proses standardisasi sistem pengukuran secara internasional dan merupakan awal tumbuh berkembangnya peran pengukuran dalam memfasilitasi perdagangan antar negara. (riz, gds)

Sumber: http://ditjenspk.kemendag.go.id/index.php/public/information/articles-detail/berita/111

Hari Metrologi Dunia 2013


Tema Peringatan Hari Metrologi Dunia 2013 adalah pengukuran dalam kehidupan sehari-hari. Untuk informasi selengkapnya silahkan buka website World Metrology Day.

 
© Copyright 1945-2045 Metrologi di Indonesia